Jumat, 25 November 2016

My Baby's Father- Part 1

01
5 Tahun Kemudian.
Suasana pemotretan di gedung itu sangatlah ricuh, para model dan staf tengah sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.
Berbagai aba-aba diucapkan oleh photographer kepada modelnya. Setiap model pasti memiliki kelemahan di bidangnya itu, tapi tidak untuk gadis tinggi dengan rambut cokelat dan iris cokelatnya yang indah. Tubuhnya bergerak dengan indah mengikuti bunyi kamera yang terus-menerus keluar. Tubuhnya sangat indah, dia seperti diciptakan untuk menjadi seorang model.
"Cut."
Setelah melakukan pemotretan yang terbilang sempurna, gadis itu berjalan untuk melihat hasilnya dan semua staf yang ada disana sangat memuji kinerjanya.
"Hari ini sangat luar biasa, kembali lah! Kau harus ke kampus besok dan tentu saja kembali bekerja." perintah si produser.
Gadis itu mengangguk, "baiklah, sampai jumpa besok."
Sekarang ini, penampilannya sangat jauh berbeda. Tubuhnya sekarang hanya dilapisi dress tanpa lengan yang menutupi tububnya sampai bagian lutut. Kakinya berjalan meninggalkan ruang ganti dan melangkah menuju mobil van nya.
Dia hanya duduk terdiam di dalam mobil sambil melihat pemandangan kota Seoul yang indah di malam hari.
Hembusan napasnya terdengar sangat kuat.
"Jika kau kelelahan, aku bisa membatalkan jadwalmu besok pagi." ucap Sulli-Manajer- .
"Krystal."
Krystal menoleh, "iya? Ada apa?"
"Jika kau lelah, aku bisa memb..."
"Aku baik-baik saja, jangan khawatirkan aku." sela Krystal.
"Baiklah, jika terjadi sesuatu katakan padaku."
"Tentu saja." jawabnya singkat lalu kembali berkutat pada lamunannya.
Perjalananan itu pun berakhir dan Krystal turun dari mobil itu lalu berjalan memasuki apartemen mewah yang sudah ditinggalinya selama 5 tahun.
Jari telunjuknya sudah menekan password apartemennya.
Setelah itu, dia berjalan memasuki apartemen itu dan mulai menyalakan saklar lampu.
Krystal melirik arlojinya dan ini sudah pukul 22.37
"Anda sudah pulang."
Krystal menoleh ke samping dan menemukan bibi Park.
"Iya Bi, apa Jiho sudah tidur ?" tanya Krystal sambil berjalan ke arah Bibi Park dan memberikannya sedikit pelukan hangat.
Bibi Park adalah wanita paruh baya yang selalu menemaninya sejak dia mengandung Jiho. Benar, Jiho adalah bayinya atau lebih tepatnya bayi hasil dari pemerkosaannya 5 tahun yang lalu.
Saat itu, Krystal benar-benar frustrasi dan tidak tahu harus melakukan apa, hingga akhirnya Bibi Park datang dan memberikannya sebuah pencerahan. Krystal pun memutuskan untuk meninggalkan keluarganya dan hidup mandiri bersama Bibi Park, jika ditanya apakah keluarganya tahu mengenai kehamilannya maka jawabannya adalah Tidak.
Krystal tidak mungkin memberitahu yang sebenarnya karena itu akan merusak citra keluarganya yang terpandang di bidang politik.
"Aku ke kamar Jiho dulu." ucap Krystal lalu pergi berjalan ke arah kamar Jiho yang bernuansakan para pahlawan luar negeri.
Krystal membuka pintu kamarnya dan tersenyum ketika melihat Jiho yang tertidur di meja belajarnya.
Kaki mungilnya pun berjalan ke arah Jiho dan mengelus lembut puncak kepala Jiho. Lalu, kedua netranya terfokus pada lembar buku gambar. Dia pun mengambilnya dan bibirnya tertutup dengan rapat ketika melihat gambar sebuah keluarga yang beranggoyakan Ayah, ibu, dan anak laki-laki. Krystal bisa menebak siapa yang ada di gambar itu.
Tanpa terasa, lembaran itu sudah teremas dengan kuat oleh tangan Krystal. Lalu, dia membuangnya ke tempat sampah.
Kedua tangannya pun beralih pada Jiho dan membopongnya ke atas ranjangnya.
Krystal juga membaringkan dirinya di samping Jiho dan memeluk tubuh mungil itu dengan erat, "Ibu akan menjagamu, selalu."
***
Keesokan harinya disebuah hotel berbintang lima terdapat tiga orang sahabat sekaligus tiga pengusaha muda tersukses di Seoul.
"Bagaimana persiapannya?" tanya namja yang memiliki kulit yang sangat putih dan bernamakan Oh Sehun.
"Semuanya lancar." jawab namja yang memiliki kulit berwarna hitam.
"Aku ingin mengundang seseorang."
Kedua namja itu menoleh ke satu namja yang sedang menyesap segelas anggur merahnya.
"Siapa?" tanya keduanya secara bersamaan.
Sudut bibir namja yang bernama Chanyeol itu terangkat sedikit, "kalian pasti akan terkejut, khususnya kau." tunjuknya pada salah satu namja.
Namja yang ditunjuk tadi hanya mengerutkan keningnya bingung.
"Jangan memasang wajah seperti itu, kau akan tahu nanti malam." ucap Chanyeol.
"Omong-omong, Krystal semakin bersinar tahun ini."
Ucapan Chanyeol itu berhasil membuat kedua sahabatnya terdiam bahkan salah satu namja ada yang tiba-tiba merasakan gejolak yang aneh di dadanya.
"Hei-hei, jangan gugup seperti itu." goda Chanyeol.
"Bagaimana kabarnya?" tanya Sehun
"Dia pasti baik-baik saja." jawab namja yang berkulit cokelat atau Kim Jongin.
"Apa kau yakin?" tanya Sehun dengan tatapan dinginnya.
"Aku sangat yakin." jawab Jongin yang dibalasnya dengan tatapan tajam.
Tatapan keduanya sangat menyimpan sebuah misteri, mereka seperti seorang musuh saat membahas gadis bernama Jung Krystal.
"Bisakah kalian berhenti?"
Keduanya langsung berhenti saling menatap setelah Chanyeol membuka suaranya.
"Aku tidak tahu masalah kalian apa, tapi cobalah untuk tidak bersikap seperti anak kecil saat membahas Krystal."ucap Chanyeol.
"Aku pergi dulu." pamit Sehun lalu berjalan meninggalkan Jongin dan Chanyeol.
"Aku juga akan pergi." ucap Jongin.
Chanyeol yang melihat kedua sahabatnya itu hanya bisa menggelengkan kepala.
"Jangan lupa, nanti malam jam 8." teriak Chanyeol.
Sehun dan Jongin hanya melambaikan tangan yang berarti iya.
***
"Eomma."
Krystal tersenyum ketika Jiho berlari ke arahnya dengan sebuah makanan.
"Ini apa?" tanya Krystal.
"Jiho dan Bibi Park membuatkannya untuk oemma, ini nasi goreng kesukaan eomma."
Krystal begitu tersentuh hingga dia mengambil makanan itu dan memeluk erat Jiho setelah meletakkannya di meja.
"Terima kasih putra Ibu." ucap Krystal lembut.
"Krys..."
Krystal menoleh dan menemukan Sulli yang datang dengan sebuah undangan.
"Undangan apa?" tanya Krystal ketika Sulli memberikannya kepada Krystal.
"Kau diundang oleh perusahaan dimana kau akan tampil sebagai proyek apartemennya."
Krystal pun mengerti, dia memang sudah menandatangani kontrak dengan perusahaan besar yang dimana dipimpin oleh tiga pengusaha muda.
"Siapa yang mengirimnya?" tanya Krystal.
"Park Chanyeol."
Krystal mengerti, diantara ketiga pengusaha itu dia hanya mengenal Park chanyeol dan menurutnya Park Chanyeol lah yang terbaik.
"Baiklah, aku pergi dan jangan lupa jam 8. Jiho-ya bibi pergi dulu." pamit Sulli sambil memberikan beberapa kecupan pada Jiho.

My Baby's Father


00
Why You Make Me Like This? 
Suara decapan yang berasal dari keduanya membuat sang pria semakin bergairah, lampu kamar yang dimatikan semakin membuatnya bergairah.
Kecupan besar dari pria itu dia berikan kepada si gadis yang sedang dalam pengaruh minuman keras.
Suara desahan si gadis itu membuat si pria semakin dan semakin bergairah, sungguh dia tidak bisa menahan lagi gairahnya kepada gadis cantik itu. 
"Aghh..." teriak gadis itu ketika dirinya sudah mencapai klimaksnya.
***
Sinar matahari yang terik berhasil menyusup ke kamar hotel yang mewah itu.
Seorang gadis yang bernama Krystal baru saja membuka kedua matanya dari tidurnya. Dia bangkit lalu meregangkan kedua tangannya, tapi dia merasakan ada yang aneh di daerah sensitifnya. Dia pun menunduk ke bawah dan terkejut ketika melihat tubuhnya yang hanya dilapisi oleh selimut tebal dan terdapat bercak darah di ranjang itu.
"A-apa yang terjadi padaku?" tanyanya tidak percaya.
Lalu, pikirannya mulai mengingat kejadian yang terjadi tadi malam. Seingatnya, dia sedang melakukan fashion show di hotel yang sekarang ditempatinya lalu dia meminum segelas minuman alkohol dan dirinya sangat mengingat kejadian yang berhasil mengambil mahkotanya yang berharga. Krystal mencoba mengingat-ingat siapa lelaki yang sudah melakukan perbuatan bejatnya pada Krystal.
Hasilnya nihil. Krystal tidak mengingat wajah lelaki itu.
"Berengsek." umpatnya.
***
Ditempat yang berbeda, seorang pria dengan setelan kerjanya tengah berhadapan dengan sahabatnya.
"Bagaimana semalam?" tanya sahabatnya itu.
Sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman kecil, "sempurna, gadis itu sangat menggairahkan."
"Bagaimana jika dia hamil? Kau mabuk semalam hingga tidak menggunakan pengaman apapun."
"Kau jangan khawatir, dia tidak akan hamil."
"Kenapa kau sangat yakin?"
"Ayolah Chan, kau jangan takut begitu."
"Aku tidak takut, aku hanya khawatir tentang gadis itu. Dia seorang model dan jika dia hamil maka karirnya akan hancur."
"Itu tidak akan terjadi, buang pikiran negatif mu jauh-jauh."
"Lalu, bagaimana jika dia mendatangimu dan membuat nya semakin kacau?"
"Tenang saja, dia tidak akan mengingat wajahku."
"Kau yakin?"
"Sangat yakin." jawabnya dengan senyuman yang tidak bisa diartikan.



Read More