01
5 Tahun Kemudian.
Suasana pemotretan di gedung itu
sangatlah ricuh, para model dan staf tengah sibuk dengan pekerjaan mereka
masing-masing.
Berbagai aba-aba diucapkan oleh photographer kepada
modelnya. Setiap model pasti memiliki kelemahan di bidangnya itu, tapi tidak
untuk gadis tinggi dengan rambut cokelat dan iris cokelatnya yang indah.
Tubuhnya bergerak dengan indah mengikuti bunyi kamera yang terus-menerus
keluar. Tubuhnya sangat indah, dia seperti diciptakan untuk menjadi seorang
model.
"Cut."
Setelah melakukan pemotretan yang
terbilang sempurna, gadis itu berjalan untuk melihat hasilnya dan semua staf
yang ada disana sangat memuji kinerjanya.
"Hari ini sangat luar biasa,
kembali lah! Kau harus ke kampus besok dan tentu saja kembali bekerja."
perintah si produser.
Gadis itu mengangguk, "baiklah,
sampai jumpa besok."
Sekarang ini, penampilannya sangat jauh
berbeda. Tubuhnya sekarang hanya dilapisi dress tanpa lengan
yang menutupi tububnya sampai bagian lutut. Kakinya berjalan meninggalkan ruang
ganti dan melangkah menuju mobil van nya.
Dia hanya duduk terdiam di dalam
mobil sambil melihat pemandangan kota Seoul yang indah di malam hari.
Hembusan napasnya terdengar sangat
kuat.
"Jika kau kelelahan, aku bisa
membatalkan jadwalmu besok pagi." ucap Sulli-Manajer- .
"Krystal."
Krystal menoleh, "iya? Ada
apa?"
"Jika kau lelah, aku bisa
memb..."
"Aku baik-baik saja, jangan
khawatirkan aku." sela Krystal.
"Baiklah, jika terjadi sesuatu
katakan padaku."
"Tentu saja." jawabnya
singkat lalu kembali berkutat pada lamunannya.
Perjalananan itu pun berakhir dan
Krystal turun dari mobil itu lalu berjalan memasuki apartemen mewah yang sudah
ditinggalinya selama 5 tahun.
Jari telunjuknya sudah menekan
password apartemennya.
Setelah itu, dia berjalan memasuki
apartemen itu dan mulai menyalakan saklar lampu.
Krystal melirik arlojinya dan ini
sudah pukul 22.37
"Anda sudah pulang."
Krystal menoleh ke samping dan
menemukan bibi Park.
"Iya Bi, apa Jiho sudah tidur
?" tanya Krystal sambil berjalan ke arah Bibi Park dan memberikannya
sedikit pelukan hangat.
Bibi Park adalah wanita paruh baya
yang selalu menemaninya sejak dia mengandung Jiho. Benar, Jiho adalah bayinya
atau lebih tepatnya bayi hasil dari pemerkosaannya 5 tahun yang lalu.
Saat itu, Krystal benar-benar
frustrasi dan tidak tahu harus melakukan apa, hingga akhirnya Bibi Park datang
dan memberikannya sebuah pencerahan. Krystal pun memutuskan untuk meninggalkan
keluarganya dan hidup mandiri bersama Bibi Park, jika ditanya apakah
keluarganya tahu mengenai kehamilannya maka jawabannya adalah Tidak.
Krystal tidak mungkin memberitahu
yang sebenarnya karena itu akan merusak citra keluarganya yang terpandang di
bidang politik.
"Aku ke kamar Jiho dulu."
ucap Krystal lalu pergi berjalan ke arah kamar Jiho yang bernuansakan para
pahlawan luar negeri.
Krystal membuka pintu kamarnya dan
tersenyum ketika melihat Jiho yang tertidur di meja belajarnya.
Kaki mungilnya pun berjalan ke arah
Jiho dan mengelus lembut puncak kepala Jiho. Lalu, kedua netranya terfokus pada
lembar buku gambar. Dia pun mengambilnya dan bibirnya tertutup dengan rapat
ketika melihat gambar sebuah keluarga yang beranggoyakan Ayah, ibu, dan anak
laki-laki. Krystal bisa menebak siapa yang ada di gambar itu.
Tanpa terasa, lembaran itu sudah
teremas dengan kuat oleh tangan Krystal. Lalu, dia membuangnya ke tempat
sampah.
Kedua tangannya pun beralih pada Jiho
dan membopongnya ke atas ranjangnya.
Krystal juga membaringkan dirinya di
samping Jiho dan memeluk tubuh mungil itu dengan erat, "Ibu akan
menjagamu, selalu."
***
Keesokan harinya disebuah hotel
berbintang lima terdapat tiga orang sahabat sekaligus tiga pengusaha muda
tersukses di Seoul.
"Bagaimana persiapannya?"
tanya namja yang memiliki kulit yang sangat putih dan bernamakan Oh Sehun.
"Semuanya lancar." jawab
namja yang memiliki kulit berwarna hitam.
"Aku ingin mengundang
seseorang."
Kedua namja itu menoleh ke satu namja
yang sedang menyesap segelas anggur merahnya.
"Siapa?" tanya keduanya
secara bersamaan.
Sudut bibir namja yang bernama
Chanyeol itu terangkat sedikit, "kalian pasti akan terkejut, khususnya
kau." tunjuknya pada salah satu namja.
Namja yang ditunjuk tadi hanya
mengerutkan keningnya bingung.
"Jangan memasang wajah seperti
itu, kau akan tahu nanti malam." ucap Chanyeol.
"Omong-omong, Krystal semakin
bersinar tahun ini."
Ucapan Chanyeol itu berhasil membuat
kedua sahabatnya terdiam bahkan salah satu namja ada yang tiba-tiba merasakan
gejolak yang aneh di dadanya.
"Hei-hei, jangan gugup seperti
itu." goda Chanyeol.
"Bagaimana kabarnya?" tanya
Sehun
"Dia pasti baik-baik saja."
jawab namja yang berkulit cokelat atau Kim Jongin.
"Apa kau yakin?" tanya
Sehun dengan tatapan dinginnya.
"Aku sangat yakin." jawab
Jongin yang dibalasnya dengan tatapan tajam.
Tatapan keduanya sangat menyimpan
sebuah misteri, mereka seperti seorang musuh saat membahas gadis bernama Jung
Krystal.
"Bisakah kalian berhenti?"
Keduanya langsung berhenti saling
menatap setelah Chanyeol membuka suaranya.
"Aku tidak tahu masalah kalian
apa, tapi cobalah untuk tidak bersikap seperti anak kecil saat membahas
Krystal."ucap Chanyeol.
"Aku pergi dulu." pamit
Sehun lalu berjalan meninggalkan Jongin dan Chanyeol.
"Aku juga akan pergi." ucap
Jongin.
Chanyeol yang melihat kedua
sahabatnya itu hanya bisa menggelengkan kepala.
"Jangan lupa, nanti malam jam
8." teriak Chanyeol.
Sehun dan Jongin hanya melambaikan
tangan yang berarti iya.
***
"Eomma."
Krystal tersenyum ketika Jiho berlari
ke arahnya dengan sebuah makanan.
"Ini apa?" tanya Krystal.
"Jiho dan Bibi Park
membuatkannya untuk oemma, ini nasi goreng kesukaan eomma."
Krystal begitu tersentuh hingga dia
mengambil makanan itu dan memeluk erat Jiho setelah meletakkannya di meja.
"Terima kasih putra Ibu."
ucap Krystal lembut.
"Krys..."
Krystal menoleh dan menemukan Sulli
yang datang dengan sebuah undangan.
"Undangan apa?" tanya
Krystal ketika Sulli memberikannya kepada Krystal.
"Kau diundang oleh perusahaan
dimana kau akan tampil sebagai proyek apartemennya."
Krystal pun mengerti, dia memang
sudah menandatangani kontrak dengan perusahaan besar yang dimana dipimpin oleh
tiga pengusaha muda.
"Siapa yang mengirimnya?"
tanya Krystal.
"Park Chanyeol."
Krystal mengerti, diantara ketiga
pengusaha itu dia hanya mengenal Park chanyeol dan menurutnya Park Chanyeol lah
yang terbaik.
"Baiklah, aku pergi
dan jangan lupa jam 8. Jiho-ya bibi pergi dulu." pamit Sulli sambil
memberikan beberapa kecupan pada Jiho.